Klaten Interfaith Youth Forum
SHINTA
KUSUMA WARDHANI
SMA
NEGERI 1 KARANGANOM
085842635312
Assalamu’alaykum
Sahabatku sebangsa dan setanah air Indonesia
Apa
kabar hati kalian? semoga selalu bersih
Apa
kabar cinta ? semoga selalu berpeluh rindu pada Allah SWT
Apa
kabar iman ? semoga selalu beranjak naik
Apa
kabar saudaraku ? semoga rahmat dan kasih sayang-Nya selalu menyertaimu.
In
hear, I want to tell about my experience.
Directly
to the experience…..
Klaten Interfaith Youth Forum
Senin,
14 November 2016. Pagi itu kuawali dengan lotisan dengan teman disekolah.
Namun, dalam tengah keasikan bersama teman, aku harus pergi meninggalkannya.
Hanya sementara saja, tidak selamanya. Selembar kertas dengan cap sekolah yang
sangat rapi telah kami terima. Ini adalah alasan kenapa kami pergi meninggalkan
pelajaran, dimana kami harus melaksanakan tugas untuk menghadiri Klaten Interfaith Youth Forum di Museum Juang 45 Klaten.
Tuntunan
sepeda motor dengan halus menuju gerbang depan kami lakukan. Dengan sangat
tertib kami meninggalkan sekolah dengan peraturan yang ada. Aku tau bagaimana
susahnya panitia dalam menyiapkan sebuah acara. Maka dari itu kami perwakilan
dari SMA Negeri 1 Karanganom berangkat tepat waktu. Walaupun dilokasi masih
suwung para tamu dan kursi-kursi satu per satu ditata dengan rapi olehnya
menggunakan prinsip gotongroyong. Dari situ kami bisa memetik sebuah arti
kekeluargaan dimana kita saling membantu sama lain.
“Assalamu’alaykum”
ucap salam sang moderator dengan keras dan lantang sebagai tanda bahwa acara dimulai.
“Tuliskan 2 ciri khas diri kalian” perintah sang pembawa acara. Dengan yakin
percaya dan hati berbicara, saya langsung menulis : 1.ISLAM 2.INDONESIA.
Mengapa demikian ? Because yang pertama yang membuat kita bangsa, kita warga
negara, kita rakyat, kita darah Indonesia berbeda adalah Agama. Ya kepercayaan.
Bermacam-macam umat beragama di Indonesia (Islam, Katholik, Kristen, Hindu,
Budha, dll) membuat kita beda. Tetapi apa? Kita disatukan oleh tempat dimana
kita dilahirkan, dimana kita dibesarkan, dimana kita tinggal yaitu INDONESIA.
Sebagai
bentuk penghormatan kepada hadirin yang telah datang termasuk saya, Bapak
Widiarto selaku KaBid. SMA/SMK Kab Klaten memberikan sambutan dengan penuh
wibawa kepada umat beragama yang telah hadir memenuhi pendopo monumen juang 45.
Disambung dengan sambutan Bapak Pendeta Sugeng selaku Ketua FKUB Klaten. Acara
semakin berkesan ketika kami memasuki acara inti.
Dengan
menggunakan transportasi yang telah disediakan panitia yaitu truck. Kami
peserta seminar melaju berjalan menuju destination yang telah ditentukan oleh
segenap panitia, antara lain : GKI Klaten, Sekolah Tinggi Hindu Dharma Jawa
Tengah (Pura Pitamaha), PonPes Mambaul Hisan, Gereja Katholik St.Theresia.
Walau terik matahari menyambut siang itu, kami (re: kaum pelajar Klaten)
bagaikan tahanan didalam truck sangat bersemangat untuk melakoni kegiatan
tersebut hingga doa penutup terucap.
3
truck yang berjalan berurutan itu seakan berhenti bersama pada sebuah gedung
megah dengan simbol salip di atas atap depan. Kakiku seakan kram untuk berjalan
memasuki tempat suci umat kristen. GKI Klaten, itulah nama gedung yang saya
maksud. Gedung dengan kursi panjang berjajar rapi itu merupakan tempat dimana
umat kristen berdoa beribadah menyembah sang kristus setiap sabtu dan minggu.
Hatiku sempat merasa takut deg2an sebelum masuk ruang doa para jamaah. Pengurus
gereja menyambut dengan ramah para peserta seminar. Senyum manisnya sebagai
tanda ucapan terimakasih atas kunjungan kami.
Saat
itu saya sempatkan untuk mengirimkan foto ke group keluarga bahwa saya sedang
di gereja. Balasan pahit kakakku sedikit membuatku bimbang hingga air mata
manis akan keluar. Ya memang pendapat orang satu dan yang lain berbeda, apakah
boleh orang islam masuk gereja? Apa boleh akhwat berhijub masuk gereja?. Tapi
alhamdulillah dengan rahmat-nya, My heart is strong. Dengan niat hanya
mengikuti seminar dan mencari manfaat dari mengikuti seminar yaitu ilmu dan
pengalaman.
Guz Aan Anshori sebagai moderator dalam acara seminar sempat kepo kepada teman-teman khususnya yang beragama islam dan yang baru pertama masuk gereja. Bagaimana perasan teman-teman sama dengan perasaanku. Takut, takut, dan takut. Ditengah puluhan murid dari berbagai sekolah yang memenuhi ruang inti gereja, pendeta wanita nan anggun Ibu Pelangi memberikan sedikit asal-usul serta kegiatan yang dilakukan di gereja tersebut. Saat sesi tanya jawab, beberapa pertanyaan terucap. Ada yang tanya ini itu ini itu semua tentang agama Kristen.
Guz Aan Anshori sebagai moderator dalam acara seminar sempat kepo kepada teman-teman khususnya yang beragama islam dan yang baru pertama masuk gereja. Bagaimana perasan teman-teman sama dengan perasaanku. Takut, takut, dan takut. Ditengah puluhan murid dari berbagai sekolah yang memenuhi ruang inti gereja, pendeta wanita nan anggun Ibu Pelangi memberikan sedikit asal-usul serta kegiatan yang dilakukan di gereja tersebut. Saat sesi tanya jawab, beberapa pertanyaan terucap. Ada yang tanya ini itu ini itu semua tentang agama Kristen.
Perjalanan
menuju Sekolah Tinggi Hindu Dharma (STHD) Jawa Tengah sekaligus menuju Pura
Pitamaha dan PonPes Mambaul Hisan kami laksanakan, dan tentunya masih dengan
truck polisi. Sambutan mahasiswa/i STHD itu sangat ramah seperti pihak gereja
sebelumnya yang menyambut di tempat ibadahnya. Agar waktu tidak membengkak banyak,
tujuan dari kunjungan kami langsung berjalan lancar di ke dua tempat tersebut.
Saat
di PonPes Mambaul Hisan suasana semakin ramai dengan kehadiran banyak reporter
dan wartawan. Kenapa sampai reporter dan wartawan datang? Karena disana kita
semua umat beragama di Indonesia sama-sama berdoa. Memanjatkan doa kepada sang
kuasa. Melantunkan doa kepada Tuhan YME. Doa untuk Samarinda utamanya sekaligus untuk Bangsa Indonesia, untuk
Negara Kesatuan Republik Indonesia. Dengan menyalakan lilin putih dengan kepala
panas setelah dinyalakan, lantunan doa sesuai dengan agama secara bergantian
dilantunkan oleh para pemuka agama masing-masing. Tangisan kecil para jemaah
sedikit mewarnai sudut ruangan itu. Kekhitmatan yang sungguh luar biasa, semoga
doa kita bersama di terima oleh Tuhan YME.
Tujuan
awal hanya ke 3 tujuan itu. Tetapi tiba-tiba truck berbalik arah menuju gereja
santa theresia. Tujuan itu merupakan tujuan terakhir karena tidak direncanakan
sejak awal. Perjalan lumayan jauh untuk menuju Jombor, Ceper tempat gereja
berada. Disana kami seperti ditempat sebelumnya, yaitu presentasi pihak gereja
lalu disambung dengan tanya jawab.
Then,
the last is closing. Penutupan dilakukan disana. Diakhiri dengan lagu satu nusa
satu bangsa menjadi tanda berakhirnya acara Klaten Interfaith Youth Forum. Disitulah
aku merasa banyak pengalaman yang aku dapatkan. Dari awal hingga akhir
menyimpan cerita tersendiri terutama untuk diri sendiri. Perbedaan membuat aku
tahu, kamu tahu, kami tahu, kita tahu apa itu persamaan. Kebersamaan menunjukkan
bagaimana kekompakan, kekeluargaan, dan tentunya interaksi yang terjadi antara
satu sama lain. Semakin banyak teman semakin banyak cerita. Semakin banyak
pengalaman semakin banyak ilmu juga. Doaku, doamu, doa kami, doa kita selalu
tercurahkan untuk Negara Kesatuan RepublikIndonesia yang ber-Bhineka Tunggal Ika kepada Allah Yang Maha Esa.
Wassalamu'alaykum
Semoga bermanfaat-
Don’t forget to like and comment



















