"Love Peace and Respect - 30 Teladan Nabi dalam Pergaulan"
Assalamu'alaikum
Gemericik
suara petir menyelimuti malam ini. Malam tanpa bintang tidak pula tanpa bulan.
Hujan yang hanya memberiku harapan palsu terus berdatangan. Datang sebentar
lalu pergi tanpa kabar.
Malam ini akan
kusambut mentari pagi esok hari. Dimana aku harus melewati mimpi malam
ini.
Doa akan
kulantunkan jika mataku akan terpejam. Terpejam untuk sementara waktu, bukan
untuk selamanya.
Dalam
kesempatan kali ini, akan kuhaturkan sedikit amalan ilmu yang telah aku
peroleh. Aku tidak ingin menjadi hujan yang hanya memberi harapan palsu kepada
umat manusia, tetapi aku ingin menjadi hujan yang membawa keberkahan tiada
taranya.
Namaku Shinta
Kusuma Wardhani. Aku lebih suka dipanggil 'Shinta' karena menurutku itulah
panggilan terbaikku. Setiap orang pasti tidak menginginkan dirinya dipanggil
dengan nama yang buruk, yang tidak dia senangi, yang memiliki makna negatif,
yang tidak bermoral dan yang pasti dia tidak ingin dipanggil dengan nama orang
tuanya.
Tema yang
cukup menarik yang akan kusampaikan. Jadi perhatian kalianlah yang kutunggu
saat ini. Sedikit pelajaran yang akan aku sampaikan adalah sedikit review dari
novel yang berjudul "Love Peace and Respect - 30 Teladan Nabi dalam
Pergaulan". Novel tsb ditulis oleh Lalan Takhrudin dan diterbitkan oleh
Penerbit Mizania.
Cekidooot..
Memanggil
dengan nama yang BAIK. Diriwayatkan dalam Q.S Al-Hujurat (49): 11 yang artinya
-> "Dan janganlah kamu panggil-memanggil dengan gelar yang buruk"
Bukankah anda
demikian memperhatikan nama sendiri? Dan sesungguhnya setiap orangpun demikian.
Karena itu, jika anda ingin disenangi orang, ingatlah nama panggilan setiap
orang yang pernah anda kenal dengan sebaik-baiknya.
Ikutilah jejak
Rasulullah SAW, beliau tidak pernah memanggil para sahabatnya dengan panggilan
yang tidak menyejukkan hati. Sampai kepada para budak dan hamba sahaya pun
beliau melarang manusia untuk memanggilnya dengan panggilan yang
menghinakannya.
Pada umumnya
manusia jauh lebih memperhatikan namanya sendiri daripada nama orang lain. Dan
hal itu pun kita rasakan sendiri, bukan ? Karena itu, ingat-ingatlah nama-nama
orang yang pernah kita kenal, dan belajar mengucapkannya dengan fasih tanpa
salah. Nah dengan demikian, secara tidak langsung, anda telah memberi ucapan
selamat dengan mesra-mesranya kepada orang-orang yang anda jumpai.
Akan tetapi
jika melupakan nama atau salah mengejanya atau memanggilnya dengan panggilan
yang sama sekali tidak dikehendakinya, orang itupun akan kurang menghargai kita atau bahkan mungkin tidak menyenangi kita.
Kebiasaan
Rasulullah yaitu memanggil para sahabatnya dengan nama-nama julukan yang
menyenangkan atau membuat mereka bangga dipanggil memakai julukan tersebut.
Misalnya memanggil Abu Bakar dengan Al-Shiddiq atau si jujur. Atau memanggil
dengan panggilan anak kesayangannya. Misalnya Abu Fulan yang artinya Bapakknya
si Fulan.
Akan tetapi
jika kita hendak mengikuti cara Nabi dengan memanggil ayahnya, lihatlah dulu,
apakah memang ayahnya menjadi kebanggan baginya atau tidak. Seandainya
diperkirakan justru membuatnya menjadi kurang senang, janganlah anda lakukan,
sebab Rasulullah SAW juga pernah melarang manusia panggil-memanggil dengan
panggilan ayahnya, yang berkonotasi melecehkan, "Janganlah kalian suka melecehkan
atau menghina bapak-bapakmu!" Sahabat ada yang mengacungkan tangannya dan
bertanya "Apakah ada orang yang suka menghina ayahnya, wahai utusan Allah
(Nabi Muhammad SAW)" "Ada!" jawab beliau "Yaitu kamu
menghina bapak orang lain dan orang lain membalasnya. Itu sama dengan kamu
menghina bapakmu juga."
Janganlah kita melupakan hal-hal yang menurut anggapan anda kecil, padahal menurut anggapan
orang lain sangat besar. Sebab orang-orang yang sudah disakiti hatinya akan sulit menerima ajakan anda untuk berbuat baik.
Mengakhiri uraian kita tentang pentingnya
memperhatikna nama dan kehormatan orang lain, izinkan saya mengutip sebuah hadis
yang diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari, yang diterima dari Abu Dzarr
Al-Ghifari, "Tidaklah seseorang melemparkan kata kepada yang lain 'fasik'
dan tidak melemparkan kata 'kafir', melainkan kata-kata itu akan kembali kepada
dirinya, jika yang dilempari kaa-kata itu tidak seperti itu."
-Thanks-
Wassalamu’alaikum

